PENDEKATAN DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT PARU KRONIK PADA ANAK
PENDEKATAN DIAGNOSIS
DAN TATALAKSANA
PENYAKIT PARU KRONIK
PADA ANAK
Pendahuluan
Penyakit paru kronik
atau Chronic Lung Disease (CLD)
merupakan kelompok penyakit dengan klinikopatologi yang beragam.1 Angka kejadian
penyakit paru kronik meningkat dalam 10 tahun terakhir, hal ini disebabkan berkembangnya dukungan perawatan di bidang
respiratori dan meningkatnya harapan hidup bayi prematur yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).2 Selain itu,
meningkatnya infeksi HIV, penyakit autoimun, lingkungan dan pola hidup yang
kurang baik serta penyakit infeksi menyebabkan kejadian penyakit paru kronik juga
meningkat.3
Anak dengan penyakit paru kronik mempunyai
morbiditas yang cukup tinggi yang dapat mempengaruhi status gizi, tumbuh
kembang dan kualitas hidup anak.4 Penyakit paru
kronik yang sering terjadi pada anak diantaranya bronkopulmonari displasia,
asma bronkial, tuberkulosis, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit
interstisial paru kronik dan kistik fibrosis.5 Penegakan
diagnosis masih menjadi masalah karena gejala yang berhubungan dengan penyakit
paru kronik seperti batuk dan sesak napas mirip dengan yang disebabkan penyakit
lain, seperti pada kelainan jantung. Pemeriksaan radiologi untuk menentukan penyakit paru kronik
juga mempunyai masalah tersendiri karena tidak spesifik tergantung dari yang melakukan pembacaan dan
terminologi dari kelainan radiologis yang beragam. Tatalaksana penyakit paru
kronik sulit dan memerlukan terapi jangka lama serta biaya yang besar.3
Pada sari pustaka ini akan dibahas
mengenai pendekatan diagnosis dan tatalaksana penyakit paru kronis pada anak.
Definisi
Penyakit paru kronis adalah suatu istilah yang tidak
spesifik yang tidak menunjukan kondisi patologi yang mendasarinya, namun hanya
menunjukan suatu kondisi kronis pada paru. Kecurigaan penyakit paru kronis pada anak
apabila terdapat dua atau lebih dari keadaan berikut:3
1. Batuk kronik menetap berlangsung
setiap hari selama 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun terakhir.
2. Infeksi saluran napas berulang.
3. Aktivitas fisik yang terbatas sedang
hingga berat karena sesak napas.
4. Menetapnya diagnosis dan atau gejala
cor pulmonale.
5. Hipoksia (saturasi oksigen ≤92% saat
istirahat atau turun ≥5% saat aktifitas).
Beberapa penyakit
paru kronik diantaranya bronkopulmonari displasia, kistik fibrosis, penyakit paru
interstisial kronik, penyakit siliar primer, asma, tuberkulosis, bronkiolitis
obliterans pasca infeksi dan bronkiektasis.3
1. Bronkopulmonari displasia (BPD)
Bronkopulmonari
displasia ditegakkan jika pada 36 minggu post
menstrual age (PMA) anak membutuhkan suplementasi oksigen yang terus
menerus, pemeriksaan fisik yang abnormal berupa takipneu, wheezing dan retraksi
serta gambaran abnormal foto toraks.6
Berdasarkan beratnya gejala BPD di bedakan menjadi:7
a. Bronkopumonari
displasia ringan jika pada PMA 36 minggu anak dapat bernapas dengan udara
ruangan.
b. Bronkopumonari
displasia sedang jika pada PMA 36 minggu anak membutuhkan suplementasi oksigen
dengan fraksi <30%.
c. Bronkopumonari
displasia berat jika pada PMA 36 minggu anak membutuhkan suplementasi oksigen
dengan fraksi >30% atau ventilasi tekanan positif.
Pada bronkopulmonari displasia terjadi oksigen
toksisitas sehingga meningkatkan reactive
oxygen spesies (ROS) dan volutrauma yang disebabkan oleh overdistensi yang
akan memacu respon inflamasi. Proses penyembuhan akan terbentuk jaringan fibrotik
pada alveolus dan saluran napas. Kelainan fungsi paru ditandai adanya hipoksia,
retensi CO2, peningkatan frekuensi napas, penurunan tidal volume,
penurunan compliance, asinkronisasi
abdominotorakal, menurunnya kapasitas residu fungsional, kolaps jalan napas,
emfisema lobaris, dan atelektasis. Adanya obstruksi jalan napas bawah yang
ditandai dengan adanya hambatan aliran udara pada saat ekspirasi,
hiperaktivitas bronkus, peningkatan usaha napas, dan kelelahan otot saluran
napas.8
2. Penyakit paru interstisial kronik
Penyakit
paru interstitial kronik ditandai dengan adanya inflamasi dan perubahan
fibrotik yang mengenai dinding alveolus. Penyakit paru interstitial kronik pada
anak imunokompeten didefinisikan sebagai adanya gejala saluran pernapasan dan
atau infiltrat difus pada gambaran foto toraks, uji fungsi paru yang abnormal
dan atau gangguan pertukaran gas yang menetap > 3 bulan.9
Faktor lingkungan seperti inflamasi, stress oksidatif dan infeksi virus
sangat penting dalam proses terjadinya penyakit interstitial paru kronik.10
Beberapa kondisi yang berkaitan dengan terjadinya penyakit interstisial paru
kronik diantaranya: penyakit autoimun, rematoid artritis, pneumonitis hipersensitivitas, terapi obat anti inflamasi dan
kemoterapi, paparan asap rokok, infeksi yang disebabkan oleh Chlamydophila pneumonia, Mycoplasma
pneumonia, Epstein-Barr virus (EBV) dan Cytomegalo
virus (CMV).10
Pada penyakit interstitial paru kronik
terdapat fibrosis paru yang disebabkan inflamasi kronis. Pada inflamasi yang luas,
proses penyembuhan menghasilkan mediator inflamasi yang akan menyebabkan
terbentuknya jaringan parut dan perubahan struktur.9, 10 Penyebab
penyakit interstitial paru dapat diklasifikasikan sebagai berikut:10
a. Paparan
terkait penyakit paru interstitial seperti: pneumonitis hipersensitifitas,
obat-obatan, asap rokok, dan radiasi.
b. Penyakit
paru interstitial berhubungan dengan penyakit sistemik seperti: penyakit
jaringan ikat, vasculitis pulmonal, penyakit granulomatosa, gangguan metabolik,
dan Langerhans sel histiositosis.
c. Penyakit
paru interstitial berhubungan dengan gangguan struktur alveolus seperti: kelainan
pembuluh darah kapiler.
d.
Penyakit paru interstitial spesifik pada
infant seperti: pulmonary interstitial
glycogenosis, hiperplasi sel neuroendokrin.
3.
Bronkiektasis
Bronkiektasis merupakan
termasuk penyakit paru supuratif kronik dimana terjadi dilatasi permanen pada
bronkus. Bronkiektasis menyebabkan permukaan saluran napas tidak rata, sebagian
tertutup oleh sekret yang kental dan purulent. Pada bronkiektasis terjadi
stasis sekret saluran napas yang terinfeksi, penurunan klirens mukus saluran
napas, dan dilatasi regional atau difus dinding saluran napas, penebalan dan destruksi
struktur saluran napas. Berbagai kondisi menyebabkan seorang anak rentan
menderita bronkiektasis diantaranya: penyempitan saluran napas proksimal
(penekanaan saluran napas, obstruksi intraluminal), post infeksi virus, bakteri
ataupun jamur. Pada kondisi yang mempengaruhi daya tahan tubuh seperti pada
kistik fibrosis, diskinesia siliari primer, dan imunodefisiensi primer ataupun
didapat memacu terjadinya bronkiektasis.11, 12
4. Kistik fibrosis
Kistik fibrosis adalah
penyakit autosomal resesif yang disebabkan oleh mutasi gen Cystic Fibrosis Transmembrane Conductance Regulator (CFTR). Kistik
fibrosis merupakan gangguan monogenik yang diketahui sebagai penyakit
multisistem. Penyakit ini ditandai dengan adanya infeksi bakteri kronis pada
saluran napas yang pada akhirnya akan menyebabkan bronkiektasis, insufisiensi
eksokrin pankreas, disfungsi intestinal, fungsi kelenjar keringat abnormal, dan
disfungsi urogenital.13
Patofisiologi kistik fibrosis terjadi
karena 1. adanya kelainan pada gen CFTR, 2. tidak adanya protein CFTR, 3.
dehidrasi pada cairan permukaan saluran napas, 4. kelainan klirens bakteri pada
saluran napas, 5. diskinesia siliar sekunder, 6. destruksi epitel sauran napas.14
5.
Diskinesia siliaris primer
Diskinesia siliaris
primer atau Primary Ciliary Dyskinesia
(PCD) adalah kelianan genetik autosomal resesif yang ditandai dengan adanya
perubahan anatomi atau struktur pada silia saluran napas yang menyebabkan
inflamasi dan infeksi kronik yang berulang pada saluran napas atas dan bawah.
Gejala dimulai sejak lahir yang disebabkan oleh gangguan klirens mukosiliar. Pada
anak normal silia membersihkan jalan napas dari mucus, bakteri dan debris.
Diskinesia siliaris primer disebabkan oleh kelainan silia yang sering karena
kelainan struktur. Pada PCD sekitar 50% disertai dengan adanya situs inversus
(sindrom Kartagener).15, 16
Diskinesia siliaris primer dicurigai pada
anak dengan gejala: 14
a.
Adanya situs inversus atau defek organ torakoabdominal.
b.
Infeksi berulang pada saluran napas atas (otitis,
sinusitis) atau saluran napas bawah (pneumonia, abses) dan peyakit paru kronik yang
tidak diketahui penyebabnya seperti bronkiektasis, batuk kronik, dan
atelektasis.
c.
Sindrom distres napas pada neonatus yang tidak
diketahui penyebabnya.
d.
Terdapat anggota keluarga yang didiagnosis menderita
PCD.
e.
Penyakit jantung bawaan dengan infeksi saluran napas
kronik dan berulang.
Manifestasi klinis bervariasi berdasarkan
usia. Pada prenatal ditemukan ventrikulomegali dan situs inversus pada
pemeriksaan ultrasonografi. Pada neonates didapatkan adanya distress napas yang
memerlukan suplementasi oksigen. Pada anak ditemukan batuk produktif,
atelectasis, pneumonia, bronkiektasis, polip hidung, rinosinusitis kronik,
otitis kronik. Pada remaja ditemukan adanya bronkiektasis, batuk kronik dengan
sputum mukopurulen, dan infertilitas.14
6.
Pasca infeksi bronkiolitis obliteran (PIBO)
Pasca infeksi bronkiolitis obliteran
merupakan penyakit paru kronik yang mengenai beberapa saluran napas.
Bronkiolitis obliteran pasca infeksi ditandai dengan adanya obstruksi lumen
saluran napas oleh jaringan granulasi, inflamasi dan fibrosis dengan obliterasi
saluran napas kecil dan bronkiektasis. Penyebab tersering adalah infeksi
adenovirus. Selain itu measles, influenza, parainfluenza, dan respiratory syncytial virus (RSV). Bronkiolitis
obliteran pasca infeksi juga sering disebabkan oleh bakteri seperti S. aureus, S. pneumonia, Mycoplasma pneumonia.17
Gejala berupa sesak, wheezing, batuk produktif yang menetap merupakan
tanda awal PIBO. Beberapa anak awalnya mendapat tatalaksana sebagai asma namun
tidak memberikan respon terhadap bronkodilator dan kortikosteroid baik oral
maupun inhalasi.17
Diagnosis PIBO dapat ditegakkan apabila
memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) adanya riwayat bronkiolitis virus akut
dan pneumonia virus sebelum usia 3 tahun, (2) adanya bukti obstruksi saluran
napas persisten setelah kejadian tersebut yang ditemukan dari pemeriksaan fisik
dan atau fungsi paru yang tidak memberikan respon terhadap pemberian
kortikosteroid dan bronkodilator selama 2 minggu, (3) gambaran radiologi obstruksi
berupa hiperinflasi atelektasis, penebalan dinding bronkus, dan bronkiektasis,
(4) pada pemeriksaan high resolution
commuted tomography (HRCT) ditemukan gambaran mosaic perfusion, (5) dan penyakit paru obtruktif kronik pada anak
yang lainnya sudah disingkirkan.14
7. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) adalah
penyakit akibat infeksi kuman M. tuberkulosis
yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan
lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.18 Risiko anak terinfeksi
TB diantaranya: anak yang memiliki kontak dengan penderita dewasa dengan TB
aktif, daerah endemis, kemiskinan, lingkungan yang tidak sehat. Pada
perkembangan penyakit TB dapat terjadi obstruksi pastial ataupun total pada
bronkus akibat kelenjar limfe yang menekan bronkus.19
Beberapa penelitian menunjukan hubungan infeksi TB dengan adanya obstruksi
saluran napas. Hal ini dibuktikan dengan uji fungsi paru yang menunjukan adanya
obstruksi.20
8.
Asma bronkial
Asma didefinisikan sebagai
penyakit heterogen dengan karakteristik gangguan inflamasi kronik saluran
napas. Inflamasi kronik ini berhubungan dengan hiperresponsifitas saluran napas
yang menyebabkan episode berulang dari wheezing,
sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk khususnya pada malam atau dini hari.
Intensitas, lama gejala, dan penyempitan saluran napas yang bervariasi dari
waktu ke waktu dengan intensitas yang bervariasi juga, dan disertai dengan
keterbatasan airan napas ekspirasi yang bervariasi.21
Anak penderita asma yang bermanifestasi
sejak dini akan bertahan dengan gejala dan derajat keparahan pada anak dapat
memperkirakan derajat keparahan pada saat dewasa. Terdapat kesulitan menegakkan
diagnosis pada anak <5 tahun. Pada anak >5 tahun diagnosis asma
berdasarkan: 1. Riwayat gagal napas akut yang mengalami perbaikan dengan short acting beta adrenergic (SABA), 2.
Peningkatan kadar IgE tanpa adanya infeksi parasite, eosinophilia dan uji
hipersensitifitas kulit yang positif terhadap alergen udara, 3. Spirometri dan uji
hipersensitifitas bronkus dengan metakolin.14
Beberapa faktor yang berhubungan dengan
meningkatnya risiko diantaranya: anak atau keluarga dengan riwayat alergi,
jenis kelamin laki-laki, obesitas, polusi, terpapar asap rokok, reccurent infant wheezing, infeksi RSV
yang berat, pneumonia pada tahun pertama kehidupan, dan hipersensitifitas
bronkus.14
Pendekatan diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Kecurigaan terhadap bronkopulmonari displasia didapatkan riwayat
kelahiran prematur, gagal napas dan penggunaan ventilator. Adanaya riwayat
infeksi perinatal, infeksi paru berulang, sesak napas, sianosis, gagal tumbuh
dan gejala neurologis dan kardiovaskular.2, 6, 7 14
Pada penyakit
paru interstitial kronik keluhan berupa batuk yang dapat disertai darah, sesak,
aktivitas yang terganggu, infeksi pernapasan yang berulang. Adanya riwayat
paparan zat organik ataupun non organik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
retraksi, wheezing, takipnea,
sianosis dan clubbing finger.9
Pada bronkiektasis
didapatkan batuk kronik produktif, batuk darah, wheezing berulang, riwayat menghirup zat iritan, aspirasi. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya struktur saluran napas yang abnormal,
adanya rinosinusitis, penurunan saturasi oksigen dan gagal tumbuh.18
Pada kistik
fibrosis didapatkan batuk berdahak, batuk berdarah, sesak napas, mengi dan
aktivitas yang terganggu karena sesak. Kistik fibrosis eksaserbasi didahului
dengan infeksi virus. Pemeriksaan fisis sering didapatkan adanya sinusitis,
polip, clubbing finger, hypertrophic
pulmonary arthropaty.18
Pada PCD sebagian
besar anak menderita rhinitis persisten, gangguan pendengaran konduksi, situs
anomali yang berhubungan dengan kelainan jantung.16 Pada PIBO didapatkan
riwayat bronkiolitis atau pneumonia pada anak yang sebelumnya sehat sebelum
usia 3 tahun. Gejala menetap setelah pemberian kostikosteroid sitemik dan
bronkodilator selama 2 minggu.17
Pemeriksaan penunjang
1. Tes fungsi paru
Tes fungsi paru
dapat membantu menentukan gangguan berupa obstruktif atau restriktif. Pada PIBO,
kistik fibrosis, PCD, asma, BPD, TB, dan bronkiektasis didapatkan gangguan
obstruktif, dimana terjadi penyempitan saluran napas dan gangguan aliran udara
di dalamnya. Hal ini dapat dilihat dari penurunan rasio force expiratory volume 1 second (FEV1): force vital capacity (FVC) <70% dan FEV1 <80%. Pada penyakit
paru interstitial kronik didapatkan gangguan restriktif berupa hambatan dalam
pengembangan paru. Manifestasi spirometrik menunjukan total lung capacity (TLC) <80% dan FVC < 80%.22
Pada PIBO gangguan berupa obstruksi
dengan force expiratory flow (FEF) 25-75%.
Apabila didapatkan penurunan (<30%) merupakan tanda dari PIBO.17
Pada asma uji fungsi paru penting untuk menentukan diagnosis. Peningkatan FEV1
>12% pada uji reversibilitas dapat menjadi dasar diagnosis asma.21
2. Pencitraan
Foto toraks
Foto polos
toraks merupakan pemeriksaan pertama pada anak dengan gejala penyakit paru
kronik. Pemeriksaan foto polos toraks dapat memberikan banyak informasi
walaupun kadang tidak khas. Pada penyakit paru interstitial kronik didapatkan
infiltrate difus sedangkan penyakit paru obtruktif kronis akan tampak
emfisematous.9
Kistik fibrosis ditemukan atelectasis segmental atau lobar di lobus atas.18
Pada asma foto toraks tampak hiperaerasi, dengan penebalan peribronkial. Pada
kistik fibrosis kadang ditemukan normal namun pada fase lanjut dapat ditemukan
penebalan dinding bronkus, impaksi mukoid, dan kadang ditemui kavitas pada lobs
atas paru. Pada TB paru pembesaran kelenjar limfe hillus dan dapat juga
ditemukan kalsifikasi dan milier.23
Bronkopulmonari displasia didapatkan gambaran reticular opacity yang tersebar diseluruh lapang paru (Gambar1). 24 Pada PIBO foto toraks didapatkan
perubahan tidak spesifik seperti hiperinflasi, infiltrate interstitial,
penebalan peribronkial, atelektasis segmental ataupun subsegmental dan adanya
konsolidasi.17
a
|
b
|
c
|
Gambar
1. (a) Gambaranhiperaerasi pada asma, (b) Gambaran Reticular Opacity pada Broncopulmonari Displasia, (c) Gambaran TB
millier
Commputed topography scan (CT scan)
High-Resolution
CT (HRCT) merupakan pemeriksaan pilihan dalam mendiagnosis penyakit paru
kronik. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan struktur parenkim hingga tingkat
lobulus paru dan vaskularisasi paru. Selain itu tingkat radiasi lebih rendah
sehingga lebih aman untuk anak.9
Pada BPD tampak adanya hiperaerasi, lesi
parenkim berupa konsolidasi, atelektasis atau interlobular lines.25 Sedangkan
bronkiektasis ditemukan gambaran signet
ring sign, tram track, air trapping dan mucoid impaction.18(Gambar
2)
b
|
b
|
Gambar 2. (a) Hiperaerasi pada Bronkopulmonari Displasia,
(b) Signet Ring Sign pada Bronkiektasis
Penyakit paru interstitial kronik berupa
penebalan septum interlobularis dan pleura, peningkatan densitas atau honey comb appearance.27
Pada PCD gambaran CT scan menunjukan
adanya atelektasis, penebalan dinding bronkus dan air trapping.28 gambaran air trapping juga ditemukan pada kistik fibrosis, bronkiektasis dan
asma.29 Pada PIBO menunjukan gambaran
berupa penebalan dinding bronkus, mosaic
perfusion, air trapping dan bronkiektasis.17
a
|
b
|
c
|
d
|
Gambar 4. (a) Fibrosis Paru pada
Pneumonia Interstial Idiopatik. (b) Honey
Comb Lung pada Usual Interstitial Pneumonia. (c) mosaic perfusion dan bronkiektasis pada BOPI (d) konsolidasi TB
milliar
3. Laboratorium darah
Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan untuk mendiagnosis
penyakit paru kronik kecuali untuk menyingkirkan kelainan sistemik seperti
imunodefisiensi. Pemeriksaan immunoglobulin E dan eosinophil dilakukan pada
pasien dengan kecurigaan alergi terhadap suatu alergen misalkan pada pneumitis hypersensitivity.10 Pemeriksaan laboratorium pada
penyakit paru kronik terjadi penurunan kadar saturasi
oksigen, dan pada penyakit yang lanjut didapatkan hiperkarbia.9
pada kistik fibrosis jika terjadi komplikasi infeksi Aspergillus fungatus terjadi peningkatan kadar Ig E(>500 u/ml).18
4. Mikrobiologi
Pemeriksaan
mikrobiologi dilakukan pada eksaserbasi bronkiektasis umumnya disebabkan oleh S. penumoniae, H. influenza, Moraxela sp.
dan P. aeorginosa. Sedangkan pada kistik
fibrosis dari isolasi sinus paranasal sering ditemukan Pseudomonas aeruginosa, S. aureus dan MRSA.18
Pada PCD infeksi sekunder biasanya disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Staphylococcus
aureus, Streptococcus pneumonia. Pseudomonas aeruginosa dan nontuberculous
mycobacteria.15
Diagnosis pasti TB jika ditemukan kuman M. tuberkulosis pada pemeriksaan
mikrobiologi. Dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis sediaan langsung
untuk menemukan basil tahan asam atau pemeriksaan biakan kuman M. tuberkulosis.19
5. Bronkoskopi
Pada bronkoskopi, bronkiektasis dapat ditemukan kelianan
berupa obstruksi intra luminal (tumor atau benda asing) atau dinding saluran
napas (trakeobronkomalasia) atau ekstramural yang menekan saluran napas. Selain
itu tampak mukosa yang atrofi, peningkatan sekret, peningkatan vaskularisasi,
dan hipertrofi dinding saluran napas. 18
Pada bronkoskopi
dapat dilakukan bronchoalveolar lavage (BAL). Pada
pemeriksaan akan didapatkan adanya netrofil pada BPD, PIBO, kistik fibrosis,
dan bronkiektasis. Sedangkan pada asma didapatkan sel eosinofil.14
6. Histopatologi
Dengan meningkatnya
jumlah penyakit paru kronis dengan gejala yang hampir sama pemeriksaan
histologis menjadi sangat penting, pemeriksaan histopatologis merupakan gold standard pada penyakit paru
interstitial kronik dan menjadi pemeriksaan terakhir dari serangkaian
pemeriksaan yang ada. Pemeriksaan histopatologis dapat dilakukan dari
bronkoskopi, transtorakal, transkutan ataupun open biopsy.10, 30
7. Pemeriksaan lain
Tes kandungan
klorida keringat (sweat chloride test),
jika kadar klorida > 60 mEq/L merupakan tanda khas untuk kistik fibrosis.
Pada pemeriksaan prenatal dapat dilakukan pemeriksaan terhadap villi korionik
pada usia kehamilan 10-12 minggu.13
Pada PCD dapat dilakukan skrining uji
sakarin. Persepsi yang terlambat terhadap rasa terhadapa sakarin yang
diletakkan pada konka mengindikasikan gangguan klirens silia. Pemeriksaan lain
yaitu pemeriksaan nitrit oksid hidung hampir selalu didapatkan kadar yang
rendah. Pemeriksaan ultrastuktur silia dengan mikroskop transmisi elektron
merupakan baku emas. Jika didapatkan kelainan pada ciliary
beat frequency (CBF) dan ciliary beat pattern (CBP) yang abnormal. Jika CBF dan CBP abnormal
dilanjutkan pemeriksaan kultur dari air-liquid
interface (ALI) untuk menyingkirkan defek sekunder pada PCD yang disebabkan
infeksi atau inflamasi.16
Uji tuberkulin merupakan alat diagnosis TB yang memiliki sensitifitas dan
spesifisitas yang tinggi. Uji tuberculin dapat dilakukan dengan menyuntikan
intrakutan 0,1 mL PPD RT-23 2TU atau PPD S 5TU di bagian volar lengan bawah.
Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan.19
Pada asma dapat diperiksakan pengukuran kadar
IgE, hitung eosinofilia dan uji hipersensitifitas kulit untuk mendukung
diagnosis.21
Tatalaksana
Tujuan dari terapi penyakit paru kronis ini diantaranya:3
-
Mengidentifikasi
dan menatalaksana penyebab yang mendasarinya dan mencegah progresifitas
-
Mempertahankan
dan memperbaiki fungsi paru
-
Mengurangi
tingkat kekambuhan dan memperbaiki kualitas hidup dengan mengurangi gejala
sehari-hari
Terapi pada penyakit paru kronik meliputi:
1. Terapi oksigen dan ventilator
Terapi oksigen
diberikan untuk mengatasi hipoksia.18
Pada bronkopulmonari displasia terapi oksigen ditujukan untuk meminimalkan
bantuan ventilator dan overdistensi dengan mempertahankan volume tidal normal,
mempertahankan kapasitas residu fungsional dengan tekanan akhir ekspirasi.
Suatu konsensus bertujuan mengurangi cedera karena ventilasi dan intubasi
digunakan nasal continuous positive
airway pressure (NCPAP). Jika pada bayi normal saturasi oksigen 97-100%,
pada BPD dipertahankan pada 95-98%, namun pada beberapa penelitian dapat
dipertahankan kadar oksigen yang lebih rendah 89-94%.2
Pada PIBO untuk mempertahankan saturasi
oksigen diatas 94% beberapa anak memerlukan terapi oksigen dirumah dalam jangka
waktu lama setelah fase infeksi akut. Sekitar 87% anak memerlukan terapi terapi
oksigen hingga 33 bulan setelah pulang perawatan di rumah sakit. 17
2. Antibiotik
Pada kistik fibrosis antibiotik diberikan untuk mengatasi
eksaserbasi, mencegah dan mengeradikasi serta mengontrol infeksi. Azitromisin
efektif dalam mengatasi eksaserbasi.31 Pada bronkiektasis pemberian
azitromisin 5 mg/kg/hari sebanyak 3 kali dalam seminggu
selama 4 bulan mengurangi frekuensi eksaserbasi. Nebulisasi tobramisin selama
6 bulan dapat memperbaiki fungsi paru dan mengurangi jumlah eksaserbasi.31
Pada PCD tidak
ada bukti yang merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis. Pemberian
antibiotik peroral dosis tinggi diberikan apabila gejala memburuk dengan adanya
gangguan fungsi paru. Apabila keluhan tidak membaik antibiotic diganti menjadi
intravena. Untuk eradikasi P. aeruginosa
sama dengan pad kistik fibrosis.15
Pada PIBO dengan
eksaserbasi akut dapat diberikan antibiotik untuk mencegah lesi baru.
Antibiotik inhalasi dapat diberikan pada anak yang terinfeksi Pseudomonas.17
Pada TB
antibiotik berupa kombinasi minimal 2 macam obat yang diberikan dalam jangka
waktu lama (6-12 bulan). Pengobatan TB terdiri dari 2 fase yaitu fase intensif
(2 bulan pertama) dan fase lanjutan. Pada fase intensif diberikan rifampisin,
isoniazid, dan pirazinamid. Sedangkan pada fase lanjutan dibeikan rifampsisin
dan isoniazid.19
3. Anti inflamasi
Pemberian anti inflamasi
seperti kortikosteroid menghambat sitokin yang memacu reaksi inflamasi di paru.
Kortikosteroid pada BPD yaitu dengan meningkatkan sintesis surfaktan,
meningkatkan aktifitas beta adrenergik, memacu produksi antioksidan,
stabilisasi membrane sel dan lisosom, mempebaiki mikrosirkulasi paru dan
menghilangkan cairan paru yang berlebihan. Pemberian deksametason 0,5
mg/kg/hari diturunkan 10% tiap 3 hari selama 18 hari.2
Pada penyakit paru interstitial kronik pemberian
umumnya prednisolon oral dengan dosis 1-2 mg/kg/hari. Anak dengan penyakit yang berat paling baik
diberikan metil prednisoslon pulse 10-30 mg/kg/hari selama 3 hari berturut
setiap bulan sebanyak 3 siklus, tetapi jika diperlukan dapat dilanjutkan hingga
6 bulan atau lebih tergantung pada repon penyakit. Setelah penyakit terkontrol
dosis metil prednisolone diturunkan. Jika tidak berespon dengan kortikosteroid
dapat diberikan obat imunosupresif atau sitotoksisik seperti azathioprine, cyclophosphamide,
cyclosporine, atau methotrexate. 10
Pada PCD belum ada rekomendasi untuk
pemberian anti inflamasi.15
Pada asma untuk mengontrol dapat diberikan inhalasi kortikosteroid.14
Sedangkan pada PIBO, 64,7% anak mengalami perbaikan klinis setelah pemberian
kortikosteraoid sistemik selama 1 bulan. Penelitian lain menyebutkan bahwa pemberian
metilprednisoslon dosis tinggi (25-30 mg/kg/hari selama 3 hari) setiap bulan
saturasi oksigen kembali normal setelah pemberian bulan ke-6.17
4. Terapi bronkodilator oral dan inhalasi
Pada BPD
nebulisasi bronkodilator diberikan karena adanya hipereaktivitas bronkus dan
hipertrofi saluran napas. Pemberian metilxantin mempercepat untuk penghentian
ventilator mekanik. Namun metil xantin memiliki efek samping berupa jitteri,
kejang dan gastroesofageal refluks.18
Pada asma eksaserbasi inhalasi
bronkodilator SABA merupakan pilihan pertama.14
Pada PCD pemberian inhalasi bronkodilator tidak memperburuk reaktivitas saluran
napas namun tidak terlalu efektif. Pemberian normal salin atau hipertonik belum
ada bukti efektif.15
Pada bronkiektasis nebulisasi hipertonik salin
efektif pada anak yang belum dapat mengeluarkan dahak sendiri dan dapat
memperbaiki klirens saluran napas.32
Pada kistik fibrosis nebulisasi hipertonik
salin dalam jangka waktu lama (48 minggu) dapat memperbaiki fungsi paru ketika
diberikan bersama dengan terapi bronkodilator.12
Terapi bronkodilator masih kontroversi
pada PIBO. Sekitar 25% anak yang memberikan hasil yang baik pada terapi ini.17
5. Mukolitik antitusif
Penelitian terbaru mengemukakan bahwa tidak ada bedanya
pemberian antitusif, mukolitik, dan kombinasi antihistamin dekongestan dengan
placebo bahkan memiliki potensi efek samping.33
6. Nutrisi
Nutrisi yang
adekuat diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak.4
Pada penyakit paru kronik terjadi
peningkatan penggunaan energi sedangkan asupan sering kurang sehingga perlu
diberikan 20-40% lebih tinggi dari kebutuhan.2, 7, 16 Susu formula tinggi lemak
mengurangi produksi karbon dioksida dan memperbaiki pernapasan.2
7. Terapi cairan
Pada BPD retriksi cairan
100-120 ml/kg per hari dan terapi diuretik menurunkan total cairan tubuh cairan
ekstraselular, cairan interstisial yang menyebabkan perbaikan fungsi paru.
Furosemide diberikan 1 mg/kg intravena atau 2 mg/kg per oral, klortiazid 20
mg/kg per oral, hidroklortiazid 2 mg/kg, dan spironolakton 1,5 mg/kg, semuanya
diberikan 2 kali sehari.2
Pendekatan diagnosis
Pada lampiran 1 menunjukkan karakteristik dari berbagai
penyakit paru kronik. Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan pendekatan
diagnostik berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Lampiran 2 menunjukan pendekatan diagnosis penyakit paru kronik berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sederhana. Anak datang dengan keluhan sesak napas dana
tau batuk dapat ditanyakan bentuk batuknya berupa produktif ataukah non
produktif. Batuk non produktif mengarah kepada BPD dan asma sehingga untuk
membedakan dapat dilakukan dengan tes bronkodilator. Sedangkan apabila batuk
produktif disertai dengan darah atau tidak. Batuk produktif disertai darah
didapatkan pada kistik fibrosis, bronkiektasis, TB dan penyakit paru
interstitial. Kemudian dapat dilihat ada tau tidaknya clubbing finger yang dapat kita temukan pada kistik fibrosis,
bronkiektasis dan penyakit paru interstitial. Pada uji fungsi paru penyakit
paru interstitial menunjukan gangguan restriktif sedangkan bronkiektasis dan
kistik fibrosis menunjukan gangguan obstruksi. Keduanya dapat dibedakan dengan
melakukan chloride sweat test.14, 18
Prognosis
Prognosis berbeda tiap penyakit paru kronik. Bronkopulmonari
displasia tergantung derajat keparahan dan usia gestasi, kistik fibrosis
tergantung kelompok mutasi sedangkan bronkiektasis tergantung onset dan
etiologi.14 Pada anak dengan PIBO umumnya
kronik nonprogersif. Namun dalam seuatu penelitian yang dilkaukan selama 3,5
tahun menyatakan angka kematian sebesar 9,7% dan 67,7% anak didapatkan gejala
yang menetap.17
Anak dengan
penyakit paru kronik sering mengalami permasalahan berupa gangguan pertumbuhan
dan perkembangan, gangguan aktivitas sehari-hari dan gangguan fungsi paru dan
jantung.34
Simpulan
Berbagai penyakit
paru kronik memiliki gejala yang sama bahkan penyakit diluar paru memiliki
gambaran yang menyerupai penyakit paru kronis. Sehingga memerlukan pemeriksaan
yang teliti mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik ataupun penunjang. Tatalaksana tidak hanya terapi farmakologi
untuk mencegah progresifitas dan menginduksi remisi, tetapi termasuk terapi
suportif, obat pengurang gejala dan mentatalaksana komorbid.
Daftar pustaka
Komentar
Posting Komentar